Gambar ilustrasi perampasan tanah proyek PSN Merauke, Papua Selatan (Julian Haganah Howay/ChatGPT Image Generate)
DI SEBUAH kampung kecil yang tenang di Merauke, Papua Selatan. Kehidupan orang-orang Marind sudah berjalan lama. Berputar bersama waktu yang tenang di tanah yang telah mereka warisi turun-temurun.
Tanah itu bukan hanya sekadar tempat mereka bercocok tanam. Tetapi juga tempat merawat ingatan nenek moyang, berdoa, dan menjaga ikatan dengan alam dan leluhur. Namun, itu semua berubah ketika proyek besar yang disebut Proyek Strategis Nasional (PSN) datang seperti badai, mengguncang dunia mereka.
“Kitong pu tanah, Bapa,” kata Musa, anak lelaki berusia lima tahun, saat matanya memandang ke arah bumi tempat mereka berpijak. “Kenapa kitong harus pergi?”
Bapa Musa, seorang pria setengah baya yang tegap meski wajahnya sudah dihiasi kerutan, menatap anaknya dengan tatapan penuh kebingungan dan kepedihan. Ia ingin menjelaskan, tetapi kata-kata tak mampu menggambarkan sakit hati yang ia rasakan.
Mereka telah dipaksa pergi dari tanah mereka. Sebuah keputusan yang dipaksakan oleh pemerintah Indonesia di Jakarta, dengan proyek raksasa yang katanya untuk kemajuan bangsa, tetapi menghancurkan kehidupan orang-orang seperti mereka.
Dua juta hektar tanah telah dirampas untuk pembangunan, mengusir ribuan orang Marind dari tempat yang mereka sebut rumah. Tanah mereka menjadi milik sejumlah perusahaan besar, dan tak ada yang bisa mereka lakukan untuk mempertahankannya.
Bahkan TNI, dengan senjata dan kekuatan yang menakutkan, hadir untuk menegakkan keinginan mereka. Menggusur orang-orang seperti mereka yang tak punya daya.
Bapa Musa menggenggam tangan anaknya, terasa keras. Ia mengenang kembali hari-hari terakhir di kampung mereka, saat mereka dipaksa meninggalkan rumah, kebun, hutan, dusun, sungai dan tempat sacral mereka.
Mereka tak lagi bisa hidup dan berjalan bebas di bawah dusun dan hutan tempat pohon-pohon besar yang menjadi saksi bisu kehidupan mereka selama ini. Rumah kecil mereka yang sederhana di kampung, tempat mereka bersama mama Musa, kini hanya tinggal kenangan.
Mama Musa sudah tiada, pergi karena penyakit TBC dan malaria, penyakit endemic Papua yang tak kunjung sembuh. Tak ada pengobatan yang bisa menjangkaunya di tempat terpencil itu.
Bapa Musa berusaha keras untuk membesarkan Musa sendirian, mengajarinya tentang dunia, tentang dusun, hutan, tanah, sungai, gunung, berburu, berkebun, tentang pentingnya menghormati alam dan menjaga budaya.
Namun, kini tanah itu telah dirampas begitu saja. Jadi dia merasa seolah-olah masa depan anaknya Musa dan keturunannya kelak, telah direnggut oleh para kampret dan bajingan yang merampas tanah mereka.
“Bapa nanti kitong tinggal dimana, makan bagaimana, apa yang harus tong buat sekarang, bapa?” Musa bertanya lagi, suaranya penuh dengan ketidakpahaman, meskipun ia sudah bisa merasakan kegelisahan yang melanda hati bapanya.
Bapa Musa terdiam. “Kitong cari tempat baru, Musa. Mungkin tong harus belajar cara hidup di kota sekarang,” jawabnya dengan suara serak, berusaha menenangkan anaknya. Namun, ia tahu bahwa kata-kata itu tak cukup untuk menjelaskan rasa kehilangan yang mendalam.
———-
MEREKA tiba di kota, tempat yang asing bagi Musa. Suara bising kendaraan dan gedung-gedung tinggi membuatnya merasa terasing. Tidak ada lagi pohon besar yang teduh. Tidak ada sungai yang mengalir tenang. Tidak ada kebun tempatnya bermain. Hanya beton, berbagai bangunan dan aspal yang tak kenal ampun.
“Bapa, kenapa orang banyak sekali di sini?” tanya Musa dengan mata yang terbelalak.
“Ini kota, Musa,” jawab bapanya dengan lelah dan pasrah. “Di sini orang bekerja untuk cari uang. Tidak seperti di kitong punya kampung. Jadi tong harus belajar hidup seperti dorang”.
Namun, bapanya tahu bahwa hidup di kota dan mengadopsi cara hidup orang kota bukanlah solusi yang sederhana. Ia merasa terasing, seperti bagian dari dirinya yang hilang bersama tanah, hutan dan dusun leluhur yang telah dirampas.
Orang Marind yang dulu hidup dengan tradisi dan cara mereka sendiri, kini harus beradaptasi dengan kehidupan yang sangat berbeda. Mereka terpaksa dan dipaksa hidup di kota seperti kebanyakan orang migran Indonesia, terutama orang Jawa.
Mereka bahkan harus belajar berbahasa Jawa karena orang Marind di Kota Merauke sudah makin termarginal dan tersisih. Orang-orang Marind di pusat kota sudah makin kehilangan tanah, selain karena proyek kolonisasi maupun pendudukan Belanda di masa lalu dan Indonesia sekarang.
Juga karena kesalahan tua-tua adat orang Marind yang rakus, ingat diri sendiri dan mau menjual tanah. Padahal tanah adalah ibu, sumber kehidupan dan pemelihara mereka. Menjaga tanah berarti menjaga eksistensi kehidupan di masa kini dan masa depan.
Bapa Musa berjuang untuk mendapatkan pekerjaan di kota, namun tidak mudah. Tanpa keterampilan khusus, tanpa pendidikan formal, dan tanpa koneksi, ia hanya bisa bertahan hidup dari pekerjaan serabutan.
Ia dan anaknya Musa mungkin bakal menjadi kaum miskin kota yang baru di Merauke. Sama seperti orang-orang Marind yang sudah kehilangan tanah dan terpaksa hidup bertahan seadanya di kota.
Sementara itu, Musa yang masih kecil mulai merindukan rumah lama mereka, tanah yang luas, pohon-pohon, hutan, kebun, dusun sumber inspirasi dan sungai yang tenang. Tanah yang kini telah hilang, digantikan dengan berbagai bangunan, lahan perkebunan dan pertanian, hingga bangunan yang menjulang tinggi.
Mereka berdua menjalani hari-hari penuh kesulitan di kota. Musa tidak pernah sekolah, dan meskipun ia sering bertanya tentang belajar, Bapa Musa hanya bisa menatapnya dengan mata penuh harapan, berharap suatu hari mereka bisa kembali ke tempat yang lebih baik.
Tetapi, kenyataan berkata lain. Tanah mereka telah dirampas, dan mereka terjebak dalam kehidupan yang penuh ketidakpastian. Terjebak dalam jargon pembangunan berwajah kolonialisme, pendudukan dan proyek strategis nasional (PSN) yang dikawal para tentara.
Namun di dalam hati Bapa Musa, ada sebuah tekad yang tak pernah padam. Ia tahu bahwa meskipun tanah mereka hilang, nilai-nilai yang mereka bawa sebagai orang Marind, ikatan dengan alam dan leluhur, akan terus hidup.
Suatu hari nanti, Musa akan mengerti bahwa tanah itu bukan hanya sekadar tempat, tetapi bagian dari diri mereka yang tak akan pernah bisa diambil oleh siapa pun.
“Kitong pu tanah memang orang rampas, Musa,” Bapa berkata pelan suatu malam, sambil menatap langit yang cerah dan bertaburan bintang. “Tapi kitong masih punya hati, masih punya jiwa. Dan itu yang tak bisa dirampas siapa pun.”
Musa yang sedang duduk di sampingnya, memandang bintang-bintang di langit. “Bapa, kitong nanti bisa pulang kembali, kah?” tanya Musa dengan penuh harapan.
Bapa Musa menatapnya dengan senyuman tipis. “Kita akan kembali, Musa. Suatu hari nanti, kitong akan ketemu jalan pulang. Kembali ke kitong pu kampong, tanah, hutan dan dusun.”
Meskipun tanah mereka telah dirampas, meskipun hidup mereka penuh perjuangan, harapan itu tetap hidup di dalam hati mereka. Seperti api yang tak akan padam.
Bersambung…………………..
(Julian Haganah Howay)
