Manuel Tahrin saat berada di hutan Moi, Sorong, Papua Barat Daya (doc: Mantah/Petarung)
PAGI itu, Rabu, 19 November 2025, di Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Matahari muncul perlahan dari celah gunung-gunung yang menjadi penjaga purba.
Udara masih lembap. Embun yang semalaman menggantung di pucuk-pucuk daun mulai menyerah pada hangat sinar pagi. Suara burung membuka hari, seolah membaca doa yang hanya dimengerti alam.
Angin berembus cukup kencang. Tidak sepenuhnya dingin, tetapi cukup untuk membuat seorang perantau rindu kampung. Di antara desirnya, gunung-gunung berdiri membisu, seperti saksi yang setia menyimpan seluruh perubahan yang berlaku di tanah Maybrat.
Embun, selimut bumi yang setia, tak lama lagi akan kembali ketika malam datang, mengulang tugasnya tanpa mengeluh. Namun di bawah ketenangan itu, Maybrat bergerak.
Di jalan raya, kendaraan hilir mudik menandai babak baru: daerah yang dulu sunyi kini masuk ke arus modernisasi. Jumlah penduduk bertambah, ruang hidup menyempit, dan hutan yang dulu lebat perlahan kehilangan sebagian wajahnya.
Air yang dulunya bening, danau yang dulu suci, kini mulai keruh. Seperti seseorang yang menyimpan terlalu banyak rahasia. Tempat-tempat keramat yang dulu dijaga seperti tubuh sendiri mulai terlupakan.
Demi wacana pembangunan, yang lama dianggap perlu disingkirkan. Padahal, justru di sanalah akar identitas orang Maybrat bernaung. Manusia yang dulu hidup dalam semangat kebenaran dan persamaan kini mudah tersulut permusuhan, semua karena harga diri telah digadaikan pada uang.
Dulu, masyarakat Maybrat hidup dari tanah yang ramah: sayur, keladi, daging, ikan dan bila berlebih, mereka membaginya kepada keluarga. Sekarang, semuanya dijual, bahkan kepada kerabat dekat. Kehangatan kebersamaan tergantikan transaksi.
Dulu sarapan hanya keladi dan air putih. Sekarang, nasi kuning, kue, susu, teh, dan kopi memenuhi meja pagi. Dulu, perselisihan diselesaikan lewat musyawarah kekeluargaan yang dipimpin tua-tua adat “rae bobot” yang dihormati karena kebijaksanaannya.
Kini, langkah kaki lebih sering menuju kantor polisi. Nilai ‘iranira’ atau persatuan bagi orang Maybrat, perlahan mengecil di hati banyak orang.
Bayi-bayi Maybrat dahulu disuapi keladi lumat, makanan yang tumbuh dari tanah sendiri. Kini, bubur pabrikan dan nasi yang lebih diterima.
Di dapur pangan tradisional, keladi, pisang, ubi jalar, dan singkong seharusnya masih berjaga, tetapi di hutan, kebun, rumah, kali, dan danau, beras menjadi raja yang tidak pernah tumbuh di tanah sendiri.
Rumah kayu tradisional perlahan tersisih oleh bangunan beton. Bahasa Maybrat yang dulu menghangatkan percakapan keluarga kini tersaingi oleh bahasa Indonesia.
Di danau, cara orang menangkap ikan pun berubah: bubu atau wata digantikan jaring, dan rumah-rumah terapung yang disebut sumambo makin berkurang.
Di kebun, tas noken dari kulit kayu, simbol kerja keras dan hubungan dengan alam, beralih ke noken dari karung. Dulu kobakoba sebagai tempat membawa barang dan pele sebagai pelindung dari panas dan hujan kini, lebih sering digantikan payung modern.
Pagar kayu yang dulu merangkul pekarangan kini diganti seng. Rotan, yang dulu akrab di tangan, mulai jarang dipakai.
Menimba air yang dulu dilakukan dengan bambu dan berjalan kaki kini diganti motor dan jerigen. Alat berburu tradisional digantikan senapan angin.
Makanan pun mengalami metamorfosis: yang dulu dibakar dalam bambu, dibungkus daun atau kulit kayu, kini dimasak dengan wajan dan belanga.
Pesta adat seperti rae mesyoh, mesak weru, atau yosim mulai tergeser oleh pesta modern yang disebut “goyang.”
Satu demi satu, makanan khas seperti hasyoh, daun keladi yang dibungkus dan dibakar dalam api, menghilang dari meja makan. Seolah keberadaannya hanya tinggal cerita.
Hari ini, kita sering tak sadar bahwa modernitas dapat mengubah seluruh pola hidup orang Maybrat. Merania, kebersamaan yang pernah menjadi jantung kehidupan, mulai melemah.
Struktur sosial lama retak, dan budaya yang menjadi pondasi identitas tergerus perlahan.
Perubahan datang seperti musim dan sulit ditolak. Tetapi budaya bukanlah kayu lapuk yang boleh dibuang. Ini adalah cermin jiwa suatu suku, jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan.
Jika jembatan itu dibiarkan runtuh, kita akan berjalan tanpa arah. Sebab orang yang tak mengenal sejarah, asal-usul, dan budayanya, mereka seperti pohon tanpa akar.
Tampak hidup, tetapi mudah tumbang ketika angin paling kecil datang berhembus.
(*) Imanuel Tahrin adalah penulis artikel ini. Dia adalah aktivis lingkungan, pegiat budaya dan pendiri komunitas Peduli Tata Ruang (Petarung) Papua yang berbasis di Kampung Susumuk, Maybrat.
