“Kawan…, ini bukan tentang emas, sesuatu yang lain, entalah. Kuharap kau menyimak ceritaku ini.”
NABIA adalah sebuah tempat di Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah. Jarak dari Sugapa, ibukota Kabupaten Intan Jaya ke tempat ini kurang lebih 10 kilometer. Jika kita dari Nabire, akses ke wilayah itu bisa menggunakan pesawat ke Sugapa, lalu berjalan kaki ke Nabia.
Sebenarnya untuk ke sana, bisa melalui fasilitas lapangan terbang (lapter) perintis untuk pesawat berbadan kecil seperti Cesna. Namun karena kendala keamanan; konflik bersenjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dengan TNI/Polri, maupun posisi lapangan Nabia yang berada di ketinggian kurang lebih 2500 meter di atas permukaan laut dengan tiupan angin yang kencang, menyebabkan pesawat jarang sekali masuk.
Nabia didiami penduduk suku Moni dan Nduga. Menurut data Pemda Intan Jaya, jumlah penduduk Distrik Agisiga berjumlah kurang lebih 14.000 jiwa. Semoga kamu tidak terkecoh dengan data ini. Karena faktanya di kampung-kampung ada setidaknya paling banyak 15 sampai 20 keluarga. Bahkan ada juga kampung yang di dapati penduduknya cuma 5 sampai 7 keluarga.
Mata pencaharian masyarakat di Nabia sehari-hari adalah berkebun dan beternak. Disamping itu, untuk memenuhi kebutuhan lainnya, ini seperti sesuatu yang hanya bisa didapatkan dengan cara membeli. Pada umumnya masyarakat juga bekerja di lokasi pendulangan yang tersebar di tepian sungai Dogabu yang membelah Distrik Nabia di sebelah utara dan Gunung Gergaji di sebelah selatan, jika dipandang dari arah barat.
Bicara tentang emas Nabia, logam mulia ini sudah menjadi penopang eksistensi hidup, simbol kemapanan ekonomi, maupun sebagai mahar (mas kawin) dan lain-lain. Masyarakat sudah sejak lama menjadikannya sebagai alat tukar atau pembayaran utama selain uang kertas.
Di Intan Jaya, sebenarnya fenomena masyarakat pendulang ini bukan hanya ada di Nabia. Kamu bisa menemukan juga di Hitadipa; sepanjang aliran kali Hiabu atau di beberapa kampung sekitar Distrik Sugapa dengan kawasan yang telah dilelang Pemerintah ke investor secara sepihak sebagai lahan Ijin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
Sebenarnya banyak cerita tersembunyi dibalik kehidupan masyarakat dengan emasnya. Misalnya soal fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang tidak ada. Tentang bangunan sekolah yang menunggu guru dan muridnya.
Atau tentang aktifitas multifungsi TNI/Polri di kantor-kantor pemerintah, bandara, bank dan fasilitas publik lainnya yang seharusnya dikelola sipil. Tetapi jika anda ingin menyaksikannya dengan mata sendiri tentang apa yang kumaksud, luangkanlah waktumu untuk traveling ke Papua. Bolehlah berkunjung ke tempatnya.
Katakanlah kamu adalah pendatang baru yang akan mengambil penerbangan Jakarta-Nabire dengan rute transit Surabaya, Makassar, Jayapura, lalu sampailah di Nabire sebelum melanjutkan perjalanan ke Intan Jaya dengan pesawat kecil. Yang juga perlu kamu ketahui adalah soal harga tiket ke Papua sekali penerbangan kira-kira 4 sampai 5 juta. Sama dengan biaya penerbangan ke Seoul, Korea selatan.
Setelah membooking tiket, kamu boleh searching sedikit untuk menggali informasi mengenai Papua, sebagai tempat baru yang akan dikunjungi. Sepertinya Google tidak akan menyediakan informasi tentang konflik politik bersenjata di Papua. Atau soal aksi pemuda dan mahasiswa Papua yang melakukan demonstrasi di jalan-jalan menolak berbagai ijin investasi skala besar dan selalu diperhadapkan dengan tindakan represif aparat kepolisian terhadap aksi demo damai menuntut Hak Menentukan Nasib Sendiri (HMNS).
Atau soal penolakan Otsus, penolakan Daerah Otonomi Baru (DOB) atau penolakan program makan bergizi gratis oleh para pelajar, pembungkaman ruang demokrasi bagi publik, kejahatan massif kemanusiaan yang dilakukan militer terhadap masyarakat sipil di daerah-daerah konflik, hingga tersingkirnya eksistensi kehidupan tradisional masyarakat adat Awyu di Mapi, Marind di Merauke hingga Moi di Sorong.
Atau mungkin juga soal masyarakat adat Yerisiam Gua di Nabire dari wilayah adatnya karena proyek perkebunan sawit perusak hutan yang dilakukan PT. Nabire Baru atau konflik antara petani lokal dan petani milenial soal lahan garapan, bahan baku dan pupuk.
Yang akan kau dapati selanjutnya mengenai Papua adalah informasi tentang konflik pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada), pelantikan bupati/gubernur dan pidato-pidato agung mereka, sosialisasi program makan bergizi gratis hingga pesatnya pembangunan infrastruktur yang menjadi fasilitas publik.
Akhirnya tiba juga setelah melewati rute penerbangan yang cukup melelahkan dan memakan waktu. Semoga kamu tidak merasa seperti baru saja tiba di bandara luar negeri. Maksudku adalah mereka akan memeriksa setiap surat-surat dan identitasmu, lalu menanyakan tujuan kamu ke Tanah Papua.
Jawab saja, sedang berlibur ke kawan lama. Di pintu keluar, kau boleh melirik ke pos penjagaan. Bukan satpam atau polisi yang kau dapati. Melainkan aparat berseragam loreng (tentara) yang membuatmu seolah-olah sedang melewati perbatasan negara.
Perlu diketahui, kamu baru saja menginjakan kaki di negeri dengan kekayaan alam melimpah, tapi memiliki penduduk termiskin di Indonesia dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 308.480 orang (29,76 persen) atau mungkin lebih. Dengan pendapatan per kapita sebesar 764.115 ribu rupiah per bulan (BPS RI 2024).
Hingga 2025, tanah Papua sudah terbelah menjadi 6 provinsi dengan hadirnya 5 provinsi baru. Hadirnya provinsi baru itu dibentuk berdasarkan kesepakatan sepihak Jakarta bersama sekelompok elit Papua. Ini dimaksudkan guna memberi akses bagi kelompok oligarki mengeksplorasi sumber daya alam (SDA) Papua dalam wujud ijin investasi industri ekstraktif, perkebunan sawit, logging, konsesi tambang, dan lain-lain.
Papua Tengah menjadi wilayah dengan jumlah realisasi ijin tambang terbesar di Tanah Papua. Jangan lupa, PT. Freeport McMoran yang telah menanamkan jangkar eksploitasi emas selama kurang lebih 60 tahun berada di Provinsi Papua Tengah yang terbentuk pada 2022 lalu.
Saat tiba di bandara Nabire, segera naik mobil sewaan menuju pusat kota di Distrik Nabire untuk mencari tempat peristirahatan. Tiga kilometer di depan kamu akan melihat sungai besar berwarna coklat. Itu adalah kali Bumi. Di hilir sungai terdapat bendungan yang dibuat sekitar tahun 1970an.
Bendungan itu memasok air ke lahan persawahan dan perkebunan di sekitaran SP 1, 2 dan 3 yang juga menjadi basis hunian masyarakat trans dari luar Papua. Hampir sebagian besar bahan baku rumah tangga seperti; sayuran, buah-buahan dan bumbu dapur yang dikonsumsi masyarakat di Nabire, semuanya didistribusikan dari sini.
Sampai di perempatan pasar SP 1, kuharap kamu tidak menoleh kiri kanan. Anggap saja yang kamu lihat adalah hiruk pikuk keramaian pasar seperti pusat-pusat jual beli pada umumnya. Pasar yang dimana mayoritas pedagangnya adalah orang non pribumi Papua. Pedagang lokal yang menjual hasil hutan, hasil kebun dan pinang hampir termarjinalkan dari sisi tempat penjualan maupun hasil pendapatan.
Di sebelah kiri jalan ada kantor Polsek Nabire Barat. Kau hanya akan melihat beberapa anggota Polisi yang sedang nongkrong di depan beranda kantor. Tidak seramai malam hari. Karena jika lewat di malam hari kamu akan menemukan keramaian yang berbeda. Di sebelah kantor ada tempat perjudian. Sudah bukan rahasia umum bahwa bisnis perjudian; rolex dan togel yang ada di setiap sudut Kota Nabire dimiliki dan diawasi aparat Kepolisian.
Lanjutkan perjalananmu 5 kilometer ke arah timur. Berhenti di lampu merah perempatan Bumiwonorejo lalu tengoklah ke kanan. Sampailah kamu di tempat peristirahatan, Hotel Jepara Indah II. Setelah itu kamu boleh turun dari mobil lalu membayar ongkosnya. Jangan lupa tujuan kamu selanjutnya adalah Nabia.
Yang artinya, kamu akan menghubungi sopir rental yang telah mengantarmu itu esok pagi lagi untuk mengantarmu kembali ke bandara setelah ke Nabia. Sampai di loby hotel, pilihlah ruangan yang posisinya di belakang agar kamu terhindar dari kebisingan dan keramaian kendaraan di depan jalan.
Bersambung…..,
(*) Ziname adalah penulis artikel ini. Ia adalah aktivis Papua yang mulai meminati dunia menulis dan sastra. Tulisan ini dihasilkan melalui pelatihan menulis yang difasilitasi Yayasan Avaa (Maret 2025).
