Barang hasil kebun di Kampung Susumuk yang akan dijual di pasar Kumurkek (doc: Mantah/Petarung)
FAJAR baru saja mengintip dari ufuk timur tanah Papua ketika embun masih enggan beranjak dari helai rumput karst di Kampung Susumuk, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.
Langit berangsur pucat, menyingkap tirai malam di bulan November 2025 yang perlahan-lahan surut ke barat. Dari puncak karst Tuker, suara burung yang dinamai dalam bahasa Maybrat: kontaif, krok, dan woi, bersahutan riuh rendah.
Alam seakan membuka hari dengan nyanyian purba, bahasa para leluhur yang sejak lama menjadi penanda waktu bagi manusia dan semesta.
Suara burung kontaif menggema di sekitar rumah. Nyaring tapi lembut, seperti pesan yang menembus dinding hati: “Bangunlah, pagi telah tiba. Saatnya berdoa, bersyukur, dan bekerja.”
Di tengah kesunyian yang masih menyelimuti, saya pun bangkit, menunaikan doa dalam keheningan yang hanya ditemani bisikan angin dan suara jangkrik yang belum sepenuhnya pergi. Api kecil di dapur menyala, mendidihkan air untuk secangkir teh hangat sebelum hari benar-benar dimulai.
Saya teringat pesan Mama tadi malam, “Besok pagi, datang antar Mama ke pasar, kita jualan.” Suaranya lembut tapi tegas, seperti panggilan yang tak bisa diabaikan. Pukul 06.17 pagi, saya berangkat dari rumah, dan dua menit kemudian sudah tiba di rumah Mama.
Di halaman yang masih berembun, kami menata barang dagangan: sayur-sayuran, hasil kebun, dan beberapa titipan dari warga lain. Setiap ikatan daun keladi, setiap karung jagung, seolah membawa harapan. Agar hari itu menjadi sedikit lebih baik dari kemarin.
Kami berangkat menuju Pasar Kumurkek pukul 06.32 pagi. Jalanan lengang, hanya kabut yang menggantung di antara pepohonan dan bayang-bayang karst yang memutih di kanan kiri jalan.
Asap tipis dari lembah naik perlahan seperti doa-doa pagi yang melayang ke langit. Aspal hitam berliku, melintasi bukit dan lembah. Menyerupai tubuh ular raksasa yang tidur di bawah sinar matahari muda.
Tumbuhan khas tanah karst Maybrat tumbuh di sepanjang jalan: merie, tamu, sitam, tahsie, fait, sayoh, fangkao, hawenum, rafa, ten, kosna. Mereka tumbuh di tanah keras dan miskin hara, tapi tetap tegak, menolak mati.
Di sela-selanya, rumput bomira dan frahohat merunduk lembut, sementara anggrek tanah mekar malu-malu, menebar warna di antara batu dan lumut. Alam Maybrat adalah puisi yang ditulis dengan kesetiaan tentang hidup, bertahan, dan memberi tanpa pamrih.
Saat mobil mulai mendaki tanjakan Sinere, panorama terbuka luas. Dari puncak, hamparan hutan dan pegunungan membentang seperti bentangan tubuh ibu bumi sendiri, penuh napas dan denyut.
Di kejauhan, matahari mulai memercikkan cahaya, menyalakan rona emas di pucuk daun. Di sinilah, setiap perjalanan bukan sekadar jarak, melainkan ziarah kecil untuk memahami arti kehidupan yang menyatu dengan tanah dan alam.
Ketika kami melewati Sahbur dan mendekati Kumurkek, gedung-gedung pemerintahan mulai tampak. Beberapa masih kosong, menanti abdi negara datang menunaikan tugas. Tapi pasar sudah hidup.
Mama-mama dari berbagai kampung telah tiba lebih dulu dengan noken berisi hasil kebun di pundak. Melangkah dengan penuh semangat meski wajah mereka tersentuh lelah.
Kami tiba pukul 06.48 pagi. Udara pasar masih segar, tapi hiruk-pikuk mulai terasa. Satu per satu dagangan diturunkan. Ada yang menata sayur, ada yang menimbang ikan, ada pula yang menyalakan tungku kecil untuk merebus air.
Setelah membantu Mama, saya menyapa beberapa keluarga yang datang. Sapaan mereka hangat seperti matahari pagi. Dalam pasar itu, waktu seolah tak berlari. Berjalan pelan, mengikuti ritme kehidupan yang sederhana, tulus, dan penuh kasih.
Setelah semua beres, kami mengantar Kaka Semuel Tahrin menjenguk istrinya yang semalam kami antar ke Kumurkek. Istrinya datang untuk mengambil jagung yang akan dijual. Kami selanjuntya kembali ke Susumuk pukul 06.58 dan tiba setengah jam kemudian.
Di perjalanan pulang, saya masih bisa merasakan semangat Mama dan para perempuan di pasar yang setiap pagi menghidupkan denyut ekonomi kampung dengan tangan-tangan mereka yang penuh doa.
Mama selalu gigih berjualan, bukan karena ambisi harta, tapi demi masa depan keluarga. Setiap rupiah yang dihasilkan dari jualan sayur, dari jagung dan ubi, adalah hasil dari kerja keras yang dipeluk doa.
Di balik tumpukan daun keladi itu ada biaya sekolah yang ditabung sedikit demi sedikit. Di balik setiap senyuman Mama ada kelelahan yang disembunyikan dengan sabar.
Uang yang dikirim untuk anak-anak mereka bukan sekadar bekal pendidikan, melainkan titipan kasih. Di sana tersimpan harapan agar sang anak bisa menamatkan sekolah dan menatap masa depan dengan kepala tegak.
Namun bagi para Mama, kebanggaan bukanlah tujuan utama. Cukup tahu bahwa anak mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri, itu sudah menjadi kebahagiaan yang tak ternilai.
Dari pasar-pasar kecil seperti Kumurkek yang menjadi ibu kota Kabupaten Maybrat inilah, lahir para pemimpin, guru, dan pekerja yang kelak membawa terang ke tanah ini. Mereka semua berdiri di atas keringat para Mama, di atas doa yang tak pernah padam di tengah kesunyian subuh.
Karena itu, kepada anak-anak muda yang kini menempuh pendidikan di kota, jangan pernah lupa: setiap langkahmu ditopang oleh kerja dan doa yang diam-diam mengalir dari pasar-pasar di kampungmu.
Mama adalah pahlawan kehidupan bukan karena gelar atau penghargaan, melainkan karena ketabahan yang tak pernah selesai. Dari tangan merekalah manusia pertama kali belajar memberi. Dari rahim mereka, lahir kehidupan. Dari keringat mereka, tumbuh harapan.
Di batas fajar setiap pagi, ketika burung kontaif kembali bersahutan di puncak karst Tuker, saya selalu tahu: ada doa yang terbang bersama suara itu. Doa seorang Mama yang tak pernah lelah mencintai.
Doa yang menjadikan setiap pagi di tanah Papua tak hanya indah, tapi juga suci.
(*) Imanuel Tahrin adalah penulis artikel ini. Dia adalah aktivis lingkungan, pegiat budaya dan pendiri komunitas Peduli Tata Ruang (Petarung) Papua yang berbasis di Kampung Susumuk, Maybrat.
