Gambar ilustrasi marginalisasi Pedagang Papua di tengah pembangunan kota di Tanah Papua (ChatGPT Image Generate)
PAGI hari di akhir pekan minggu ke dua bulan April 2025. Saya terbangun pada pukul 05:58 pagi, setelah melalui malam panjang yang diguyur hujan deras. Melangkah keluar dari kamar tidur ke toilet untuk buang air kecil.
Selanjutnya saya membuat teh manis lalu berjalan menuju halaman depan rumah. Ternyata beberapa adik sepupuku sudah bangun dan sedang duduk di teras depan rumah sambil bercerita.
Suasana pagi begitu adem dengan udara yang terasa segar. Suara nyanyian burung nan merdu dan cahaya matahari pagi mulai tampak menunjukkan senyum manisnya dari balik gunung. Membuat suasana hati dan pikiran terasa tenang. Seakan tak ada beban dalam hidup.
Saya duduk menikmati panorama indah sambil menyeruput teh manis yang mulai hangat. Tak sadar waktu berputar begitu cepat. Setelah melihat jam pada HP, ternyata sudah pukul 08.03 pagi.
Saya lalu bergegas kembali ke kamar tidur untuk mengambil handuk dan mandi. Setelah mandi saya bersiap untuk keluar rumah sebentar. Semalam saya sudah menetapkan bahwa pagi hari saya akan jalan-jalan melihat sisi lain Kota Sorong.
Pukul 08.46 pagi, saya mulai bergerak keluar dari rumah. Setelah melalui 4 menit perjalanan dari rumah, saya pun tiba di jalan umum. Suasana pagi itu tidak seperti biasanya karena aktivtas pagi tidak begitu ramai. Mungkin karena hari sabtu jadi aktivitas kantoran libur. Meskipun begitu, aktivitas perdagangan dan jasa tetap berjalan.
Di sepanjang jalan Kota Sorong dari area Holland Beton Maatschappij (HBM) ke Yohan hingga Saga, terlihat aktivtas perekomonian mulai berjalan. Sejumlah pedagang kecil warga non Papua mulai beraktivitas. Mereka berjualan nasi kuning, kue-kue dan sayuran.
Selain itu, beberapa usaha ekonomi menengah ke atas milik warga pendatang seperti warung bakso, warung nasi padang, tempat foto copy, bengkel motor dan mobil, SPBU, toko bangunan, dealer motor, hotel, hingga Ramayana Mall dan Saga Mall, juga mulai terlihat aktivitasnya.
Setelah motor yang saya kendarai melewati Saga Mall dan kompleks Kuda-Laut, saya melanjutkan perjalanan melewati pelabuhan Sorong. Tampak kawasan Tembok Berlin yang sudah digusur karena proyek reklamasi. Saya berbelok ke kanan menuju Stadion Bawela ke arah Siswa dan selanjutnya menuju kompleks Surya.
Di sepanjang jalan, masih terlihat aktivitas yang tak jauh berbeda seperti saat saya memulai perjalanan dari HBM, Yohan hingga Saga. Setiba di Kompleks Surya, terlihat aktivitas mama-mama pedagang Papua yang berjualan. Ada yang berjualan di pasar dan pinggiran jalan dengan beralaskan meja-meja kecil atau beralaskan karung seadanya.
Mereka menjual sayuran seperti kangkung, kacang panjang, bunga pepaya, daun gedi dan lain-lain. Selain itu ada yang menjual singkong (kasbi), petatas dan keladi. Makanan lokal Papua ini menghiasi meja dan karung jualan mereka.
Motor terus melaju ke arah Gereja Kristus Raja dan selanjunya ke arah lampu merah Kampung Baru yang tak jauh dari Gereja GKI Imanuel Boswesen, Kota Sorong. Saat tiba di lampu merah, saya memutuskan belok kanan menuju arah Rufei hingga ke Tanjung.
Setelah melewati jalan raya Rufei Pemda, saya belok kiri untuk mengunjungi pasar moderen yang dibangun pemerintah Kota Sorong. Setelah tiba di depan pintu belakang pasar, saya memutuskan belok kiri untuk masuk ke dalam pasar.
Situasinya sangat miris. Pasar yang baru diresmikan pada tahun 2022 terkesan tidak terawat. Sejumlah bangunannya telah rusak. Misalnya portal pembatas di pintu masuk bagian belakang.
Bangunan utama pasar juga mengalami kerusakan. Ironisnya, banyak orang mabuk yang melintas atau duduk di area dalam pasar. Suasana pasar juga sungguh menyedihkan karena tampak sepi dan tidak ramai seperti layaknya pasar.
Saya lalu teringat pertemuan pada Jumat, 4 April 2025. Saat itu kami berdiskusi bersama mama-mama pedagang Papua dan beberapa bapak di teras samping Gedung Gereja GKI Imanuel Boswesen yang berjarak 5-10 meter dari Kantor Klasis GKI Sorong.
Dalam pertemuan itu, mereka menjelaskan situasi Pasar Boswesen yang kian memburuk dan tidak memberi dampak ekonomi kepada para pedagang. Ini berbeda jika dibanding saat mereka masih berjualan di pasar Boswesen yang telah digusur Pemerintah Kota Sorong pada 28 September 2022.
Di Pasar Modern Rufei, kondisinya tidak menguntungkan para pedagang karena lokasinya tidak strategis. Pasar jauh dari akses pembeli dan layanan transportasi publik seperti taxi dan bus. Bukan itu saja, situasi keamanan juga tidak mendukung lantaran banyak orang mabuk berkeliaran.
Para pemabuk ini biasanya menduduki tempat jualan mereka saat mengkonsumsi miras. Atau tertidur pulas setelah meneguk miras. Situasi ini terjadi hingga sekarang.
Mama-mama juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Sorong tidak memberi solusi atau menanggapi situasi yang mereka hadapi di Pasar Boswesen. Padahal mereka sudah menyampaikan permasalahan ini beruang-ulang.
Setelah mengamati situasi pasar, saya melanjutkan perjalanan dengan tujuan mama-mama penjual kelapa muda di depan area reklamasi. Saya sering berkunjung untuk membeli kelapa muda di tempat ini karena airnya sangat manis.
Namun setelah tiba di tempat itu, ternyata mereka tidak berjualan pagi itu. Saya lalu memutuskan untuk pergi ke tempat lain yang berada di depan Gereja GKI Imanuel Boswesen. Tapi sebelum beranjak, saya sempatkan diri melintasi area reklamasi.
Di kawasan ini terlihat banyak orang berolahraga seperti jogging dan jalan santai. Ada yang duduk bersantai sambil menikmati pemandangan laut dan sekitarnya. Ada yang mandi dan ada juga yang mancing. Aktivitas pembangunan juga sedang berjalan tanpa hambatan.
Setelah itu saya bergerak ke tujuan. Sewaktu tiba di tempat penjualan kelapa muda yang berada di depan Gereja GKI Imanuel Boswesen, saya memesan satu buah kelapa muda untuk sekedar menghilangkan rasa dahaga yang sudah tak tertahankan.
Harganya sangat murah. Satu buah kelapa seharga 15 ribu rupiah. Airnya terasa manis di lidah dan segar di tenggorokan. Isi kelapanya juga bagus.
Di tempat itu terlihat banyak orang yang berkunjung untuk membeli dan menikmati segarnya air kelapa muda. Selain menjual kelapa muda, mereka juga menjual minyak kelapa dengan harga bervariasi. Mulai dari harga 20 ribu hingga 50 ribu sebotol. Mereka juga menjual cacing asar dan tikar. Usaha berjualan ini dilakukan demi menafkahi kebutuhan hidup sehari-hari.
Saat menikmati air kelapa dan isinya, saya sempat bercerita bersama bapak dan mama penjual kelapa. Mereka berasal dari Kepulauan Ayau, Kabupaten Raja Ampat.
Mereka datang pada tahun 1980an, lalu menetap di Pulau Doom dan berkebun di Pulau Sop. Kemudian di tahun 1998 mereka memilih menetap. Saat itu mereka datang ke Sorong, lalu membuat tenda-tenda darurat dari terpal untuk tempat tinggal sementara.
Saya lalu teringat masa kecil di tahun 1998 hingga awal 2000an. Kalau melintas di area yang dulunya berdiri Pasar Boswesen, selalu melihat tenda-tenda kecil yang dibuat di pinggiran pantai, di atas pasair. Saat itu area ini belum ditimbun seperti sekarang. Rupanya mereka adalah pembuat tenda-tenda itu.
Dalam perbincangan, mereka juga menyampaikan rasa kecewa kepada Pemerintah Kota Sorong yang telah membongkar dan menggusur para pedangang yang berjualan di pasar Boswesen. Setelah itu para pedagang dipaksa berjualan di Pasar Moderen Rufei yang baru selesai dibangun.
Namun, menurut mereka pasar itu tidak memberi kenyamanan bagi para pedagang. Justru pedagang mengalami banyak kerugian karena jualan mereka sering tidak laku terjual. Bapak dan mama ini bagian dari pedagang Papua yang sedang berjuang untuk pembangunan pasar khusus. Setelah air kelapa dan isinya habis dilahap, saya berpamitan untuk pulang.
Sepenggal cerita ini mau memberi informasi sekilas mengenai situasi ekonomi orang asli Papua di Kota Sorong. Dimana OAP semakin tersisih di sektor ekonomi terbawah, menengah hingga atas.
Tulisab ini tidak menceritakan keseluruhan kondisi Kota Sorong. Tapi persoalan marginalisasi yang dialami para pedagang Papua di beberapa tempat di kota ini umumnya sama. Misalnya, Pasar Sentral Remu, Pasar Jembatan Puri, dan beberapa tempat lain.
Seiring berkembangnya Kota Sorong sebagai ibu kota Provinsi Papua Barat Daya di sektor perdagangan, jasa dan industri, level ekonomi orang asli Papua di sektor informal pun makin tenggelam. Yang bertahan hanya bisa berjuang seadanya dengan cara mereka untuk kelanjutan hidup. (Marthen Louw)
