
Pemandangan Danau Ayamaru, Maybrat, Papua Barat Daya (Sumber: Lembaga Edukasi Lingkungan).
PAGI itu di dalam sebuah rumah sederhana. Hawa dingin yang menyeruak terbawa angin dari danau Ayamaru serasa menyergap seisi ruangan. Tubuh saya bergemetar kedinginan. Pagi itu adalah hari keenam di awal tahun 2025.
Selepas merayakan semarak pergantian tahun, saya masih tinggal bersama keluarga di kampung halaman Suwiam, Maybrat, Papua Barat Daya. Pagi itu saya bangun lalu sejenak terbersit ingatan akan kenangan, suka dan duka yang tertinggal di tahun lama (2024). Ada rasa sedih.
Meski hari, minggu, bulan dan tahun terus berganti, kehidupan harus terus bergulir selama hayat masih dikandung badan. Laksana air dari hulu sungai yang terus mengalir memberi kehidupan, hingga ke pantai dan laut lepas. Air menguap menjadi awan, hujan dan kembali menjadi mata air. Begitu seterusnya!
Cakrawala yang menjadi rumah bagi matahari belum menampakan ronanya. Lekukan perbukitan kapur (karts) dan danau Ayamaru yang legendaris belum tampak. “Saya harus terus bersemangat dan memiliki harapan untuk melangkah. Menatap hari esok yang lebih baik! Ini masih terlalu pagi. Tapi saya harus bergerak,” pikir saya dalam hati.
Waktu di arloji saya menunjukan pukul 4:30 pagi. Saya sudah mempersiapkan barang bawaan berupa tas ransel dan beberapa barang untuk kembali ke Sorong. Pagi itu ada semangat baru selepas masih merasakan aura positif tahun baru 2025. Meski begitu, ada rasa berat hati meninggalkan orang tua, sanak saudara dan keluarga setelah merasakan kebersamaan.
Sesudah mempersiapkan diri dan berpamitan kepada keluarga, saya akan memulai perjalanan dari Kampung Suwiam menuju Kampung Yubiah, lokasi terminal bus perintas berada. Kampung Suwiam terletak di sebelah utara danau Ayamaru. Tepatnya di danau 2 bendungan danau Sarimo, Distrik Ayamaru Utara Timur.
Perjalanan menuju terminal bus perintis di wilayah belahan danau Ayamaru yang disebut “Yummasssess” atau Akut Sebelah Danau (ASD), melewati jarak tempuh 12 kilometer. Lumayan jauh.
Wilayah seberang danau hanya punya satu terminal bus, dengan dua kendaraan operasional yang melayani rute Yukase (Maybrat)-Sorong pulang pergi. Yukase adalah singkatan dari tiga nama kampung (desa) lama di tepian danau Ayamaru: Yubiah, Karetubun dan Seta.
Lokasi terminal bus berada di Kampung Yubiah, Distrik Ayamaru Utara. Sengaja ditempatkan di kampung ini karena posisinya strategis. Berada di jalan simpang lima yang menghubungkan 4 distrik (kecamatan) induk di sekitar danau Ayamaru.
Keempat distrik itu adalah Ayamaru Utara (Yukase), Ayamaru Utara Timur (Mapura), Mare dan Mare Selatan (Sidi). Sedangkan untuk rute Distrik Ayamaru Jaya (Segior) yang juga berada di sekitaran danau, dilayani satu armada bus karena akses jalannya berbeda dari jalan simpang lima.
Oh iya, wilayah dengan sebutan “Yummasssess,” adalah nama yang digabung dari semua nama kampung yang berada di 5 distrik tersebut. Kelima distrik tertua di belahan danau Ayamaru, dihuni orang Maybrat yang berasal dari sub suku Ayamaru dan Mare. Menggunakan bahasa Maybrat sebagai bahasa ibu.
Tiga distrik tertua di utara danau Ayamaru yang termasuk dalam wilayah sub suku Ayamaru adalah Distrik Ayamaru Utara, Ayamaru Utara Timur dan Ayamaru Jaya. Sementera dua distrik besar lainnya yakni Distrik Mare dan Mare Selatan dihuni oleh orang Maybrat yang berasal dari sub suku Mare. Mereka menggunakan bahasa Maybrat dengan logat khas Mare.
Pagi Merekah
Saat pagi tiba, hamparan rerumputan hijau di permukaan danau Ayamaru tampak luas mempesona. Riak air yang mengalir deras ke danau keluar dari anak-anak sungai berair sebening kristal. Bersumber dari cekungan formasi perbukitan kapur (karst) yang bergerombol menjulang.
Pemandangan ini membuat suasana alam di kampung halamanku terasa khas. Dari kejauhan pohon rawiah, cemara, pinus, jati dan pohon pinang hutan, seakan melambai menyisakan suka duka maupun rindu akan kampung halaman. Terlebih saat jauh di perantauan.
Dingin menusuk tulang. Desiran angin pagi menyapuh rerumputan liar. Membuat anggrek danau ikut melambai. Angin seakan datang berbisik padaku untuk tinggal lebih lama. Tinggal bersama pelukan rimba raya. Seperti nama kampung halamanku ‘Suwiam’ yang secara etimologi dalam bahasa Maybrat; ‘su’ berarti ‘bersama’ dan ‘wiam’ artinya ‘rimba raya’.
Jalanan yang licin, embun masih bergelantungan di pucuk alang-alang. Kicauan burung ‘Krock’ (Karok), burung endemik khas Maybrat yang mulai punah, seakan menghantar, menemani penat di perjalanan ini.
Agar bisa sampai di terminal bus yang berjarak 12 kilometer di Kampung Yubiah, Distrik Ayamaru Utara, saya perlu menumpang kendaraan. Entah motor atau mobil. Untungnya, pagi itu adik Iso (23), seorang pelajar di sebuah SMP di Yukase akan pergi ke sekolah dengan mengendarai motor. Sekolahnya berdekatan dengan terminal bus.
Biasanya untuk mendapat tumpangan kendaraan, kita harus memesan satu hari sebelum berangkat. Pagi itu, jam di hanphone saya sudah menunjukan pukul 05:20 pagi. Saya harus bergegas ke rumah adik Iso, menumpang motornya agar bisa sama-sama bertolak.
Dalam perjalanan, kami harus melewati beberapa kampung di Distrik Ayamaru Timur seperti; Kona, Kosah, Mapura, Karfa, Tomase dan Fraboh. Juga melewati Kampung Serma, di Distrik Ayamaru Utara yang berbatasan dengan Distrik Ayamaru Timur, sebelum tiba di Kampung Yubiah, lokasi terminal bus.
Distrik Ayamaru Utara telah dimekarkan beberapa tahun silam. Memiliki sejumlah kampung yang asri seperti; Arne, Arne Timur, Aus, Tiwit, Hohoyar, Johafah, Karethubun, Kfaa, Nauwita, Serma, Yubiah dan Kampung Rindu. Selain Distrik Ayamaru Utara dan Distrik Ayamaru Utara Timur, ada juga Distrik Mare, Mare Selatan dan Segior.
Itulah kelima distrik besar yang terletak di sebelah utara danau Ayamaru. Wilayah ini kemudian menjadi inspirasi pemberian nama sub suku Ayamaru di Maybrat. Dimana secara etimologi ‘aya’ artinya air dan ‘maru’ berarti danau.
Agar tidak ketinggalan bus, kita yang tinggal di seberang danau harus bangun lebih awal. Terutama untuk kampung-kampung di wilayah Ayamaru Utara dan distrik tetangga seperti Ayamaru Utara Timur, Mare, Mare Selatan, Segior dan lainnya di wilayah Yumasssessss.
Kabut pagi makin pekat menutupi pemandangan sekeliling. Ini pemandangan biasa tiap pagi. Dengan menumpang motor, kami bergerak dari Kampung Mapura menuju Kampung Yubiah lebih awal agar bisa mendapat tempat duduk di dalam bus.
Udara dingin dan rasa kantuk perlahan sirna. Perasaan cemas karena takut ketinggalan bus memaksa saya bergegas melawan pagi yang dingin dan jalanan yang licin. Angin sepoi-sepoi disertai lolongan anjing dan kicauan burung, sesekali terdengar mengiringi perjalanan.
Saat tiba di terminal bus, saya memberi uang 50 ribu rupiah ke adik Iso, seraya menyampaikan terima kasih. Itu mungkin ongkos jajan yang sepadan dengan anak seusianya yang duduk di kelas 2 SMP Yukase. Ia kemudian lanjut ke sekolah yang jaraknya dekat dengan tempat bus Damri diparkir.
Saya duduk beristirahat selama 50 menit bersama warga yang sudah lebih dulu tiba. Rasa lapar yang mulai terasa mendorong saya mengambil bekal sarapan yang sudah disiapkan mama saya dari dalam kantong. Melahap beberapa ekor ikan rebus dan keladi bakar untuk mengganjal perut. Aroma keladi bakar dan segarnya ikan rebus masakan mama saya selalu tergiang.
Jam dinding di terminal menunjukan pukul 6 pagi. Saat yang ditunggu pun tiba. Para penumpang dipersilahkan naik ke bus. Tapi kami malah berebutan naik mencari kursi. Saya akhirnya duduk di kursi belakang nomor 19.
Barangkali itu posisi yang tidak ideal bagi saya yang harus bergerak jam 5 pagi dari kampung Suwiam. Tapi nyaris tidak mendapat tempat duduk. Apalagi kalau bangun kesiangan! Bagi penumpang bus yang duduk di kursi belakang seperti saya, akan senasib dengan 4 penumpang lain. Harus siap menahan rasa mual saat bus berguncang menempuh 116 kilometer perjalanan ke Sorong.
Booommm…, sopir menghidupkan mesin dan bus lalu bergerak pukul 06:30 pagi. Perasaan cemas lantaran takut terlambat bus pun redah. Walau begitu, rasa dingin masih menyiksa. Efek hembusan angin danau dan kabut pagi yang belum sirna. Mentari juga belum utuh bersinar nemampakan wajahnya. Menyinari alam dan manusia di tanah leluhurku Maybrat, negeri ‘raa bobot’ yang selalu kurindukan.
Perjalanan ke Sorong
Asap hitam dan suara bising knalpot bus terus membahana. Membelah pagi yang masih membelenggu sebagian penduduk Maybrat yang masih terlelap dalam peraduan. Klakson bus berbunyi di tiap tikungan. Seakan menjadi teman karib di perjalanan.
Bus perlahan meninggalkan kampung-kampung di belahan danau Ayamaru. Biasanya di kampung-kampung yang dilewati, dari pinggir jalan warga akan meneriaki sopir. Ada yang memberhentikan bus sekedar untuk memesan tempat duduk lebih awal, bila ada kerabat mereka yang membutuhkan tumpangan di perjalanan berikut.
Ada yang hanya mau menitip barang ke Sorong. Kadang ada warga yang memanggil supir saat bus melintas di kampung mereka. Sekedar bercanda atau menyampaikan salam kepada Sudirman, nama supir bus ini.
“Sudirman, tra tau mandi, selamat jalan,” Atau “woe sopir bus ugal-ugalan, kapan ko naik nih?” Mendengar itu, ia hanya tersenyum simpul atau tertawa lebar sambil membunyikan klakson, seraya berkata “mentioh’ yang artinya sampai jumpa dalam bahasa Maybrat.
Saat tiba di pusat kota Ayamaru, bus akan berhenti sejenak. Empat kursi tersisa dan ruangan kabin di dalam bus akan terisi penuh. Seluruh penumpang yang kali ini berjumlah 23 orang sibuk merapikan barang bawaan. Waktu di handphone menunjukan pukul 07:20 pagi.
Sebelum bus melanjutkan perjalanan, penumpang dihitung kembali. Ternyata ada tambahan 5 orang. Mereka terpaksa dijinkan berdiri karena semua kursi sudah penuh. Bus lalu bergerak, melaju tanpa alunan musik karena speaker rusak.
Kelebihan penumpang bus seperti ini tidak boleh terus ditolerir! Karena suatu saat bisa membahayakan keselamatan perjalanan. Apalagi kondisi bus sudah usang, ditambah medan jalan yang tidak semuanya mulus.
Ada jalan sempit, berbatu, becek, berbelok, ada tanjakan dan turunan curam. Ini menjadi tantangan perjalanan pulang pergi Sorong-Maybrat bila menumpang bus Damri.
Bunyi knalpot meraung. Kursi bergetar dan bunyi klakson terdengar di tiap tikungan. Ini menjadi nada sumbang dan rima dalam perjalanan. Seluruh penumpang berjumlah 27 orang. Terdiri dari 9 perempuan, 3 balita dan 15 laki-laki. Selama perjalanan, hampir semua penumpang tertidur pulas, kecuali saya.
Tekanan laju pedal gas sesekali terhenti karena sopir harus menepi di suatu tempat. Mendahulukan kendaraan lain seperti truck pengangkut barang, kayu atau truck BBM milik Pertamina Sorong yang suka menggila di rute jalan Sorong-Maybrat. Di perjalanan, kami dua kali melewati truck tronton bermuatan excavator.
Waktu menunjukan pukul 10:30 pagi. Kami berhenti di Kampung Batu Payung untuk beristirahat, meregangkan otot dan makan siang. Di tempat ini, para penumpang memesan makanan ringan, minum kopi di warung atau membuang hajat di toilet sebelum perjalanan dilanjutkan.
Bagi penumpang yang terburu-buru atau sudah tidak sabar melepas seluruh logistik selepas 4 jam perjalanan awal, mereka bisa mengendap dibalik semak belukar. Tapi hati-hati karena bisa digigit ular. Di area ini ada sebuah kali berair jernih yang melintas.
Saya sempat memanfaatkan waktu jeda, membuat catatan kecil mengenai perjalanan ini. Karena ini pengalaman pertama menumpang bus dari Maybrat ke Sorong. Barangkali inilah alasan saya menikmatinya sehingga susah tertidur selama perjalanan.
Bus Kembali bergerak melanjutkan perjalanan. Sesekali bus berhenti tiba-tiba sehingga penumpang yang tertidur pulas terbangun. Diantara mereka mungkin ada yang berpikir sudah sampai. Atau mengira bus mengalami pecah ban, kecelakaan dan lain-lain.
Namun bus harus berhenti tiba-tiba karena ada penumpang atau anak balita yang ingin buang hajat. Ada juga yang ingin muntah atau membuang kantong plastik berisi muntah lalu mengganti yang baru.
Dalam perjalanan ini, bus melintasi jalan yang membelah lembah, perbukitan dan belantara yang sepi. Sepintas terdengar suara kicauan burung. Ada pohon-pohon tumbang bertebaran di sisi jalan karena sudah ditebang para penggarong yang entah punya ijin dari siapa?
Saat suara rem mobil mendesah seakan tak berfungsi, penumpang akan merasa cemas. Terutama saat mendaki atau menuruni jalan curam. Mereka serasa berdoa dan berharap agar tidak ada penumpang yang terkena racun (bombouw) sehingga perjalanan aman. Ini semacam praktek ilmu gaib tradisional suku Maybrat untuk melukai orang.
Saya nyaris tertidur namun dibangunkan oleh rasa lapar, sumpek dan pusing oleh guncangan bus. Inilah pengalaman menumpang bus Damri dengan rute Sorong-Maybrat yang dipatok tarif 100 ribu per orang. Bagi masyarakat Maybrat, tarif sebesar itu tergolong murah dan membantu. Namun jika ingin lebih cepat dan nyaman, bisa menyewa mobil dengan tarif lebih mahal.
Selepas satu jam perjalanan, saya mengintip dari balik kaca jendela bus. Ternyata kami sudah tiba di Kampung Pasir Putih, Distrik Fokour, yang berada di wilayah Kabupaten Sorong Selatan. Ini pertamda perjalanan 116 kilometer dari Maybrat ke Kota Sorong masih jauh.
Jadi mari tidur lagi. Menikmati kebisingan knalpot dan lantunan klakson. Merasakan sumpeknya tumpukan barang hasil kebun dan aroma tumpahan air liur penumpang yang jatuh karena terlelap. Semua ini mewarnai lika-liku perjalanan bersama Sudirman, sopir bus Damri yang ramah tapi senang ugal ugalan.
(*) Robertus Nauw adalah penulis artikel ini melalui pelatihan menulis yang difasilitasi Yayasan Avaa (Maret 2025). Dia adalah aktivis Papua dan pegiat pembangunan masyarakat yang berdomisili di Sorong.