
Gambar ilustrasi Mace Lussy sedang duduk di sisi tembok sebuah pantai (ChatGPT Image Generate).
SORE itu, Minggu, 16 Maret 2025. Saya beranjak meninggalkan rumah di area Kampung Nenas (Kamnas), Kota Sorong, dengan mengendarai sepeda motor tua. Menuju pantai reklamasi Tembok Berlin yang bersebelahan dengan Pelabuhan Laut Sorong guna menikmati suasana sore, hingga menyambut datangnya malam.
Ketika tiba di lokasi, waktu menunjukan pukul 16:40 sore. Disini saya mendapati banyak orang sedang melakukan berbagai aktivitas. Mandi, berolahraga atau hanya sekedar menikmati suasana pantai sambil berfoto ria menanti datangnya senja.
Akhirnya senja pun tiba. Mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu, menyelimuti suasana pantai dengan deburan ombak . Angin laut pun bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma garam dan ikan bakar dari arah tikungan Halte Doom. Aromanya sungguh menggoda selera.
Aku laksana seorang musafir yang sore itu sedang santai menikmati datangnya senja. Duduk di salah satu bangku, memandangi laut yang tenang dan berkilauan oleh siluet cahaya keemasan senja. Tiba-tiba mataku terpaku pada sosok wanita berkulit eksotis dan hitam manis yang sedang berjalan di sepanjang area tembok.
Rambut keriting ‘kribo’ hitamnya dibiarkan mengembang dengan sangat indah. Wajahnya yang oval dengan senyum manis, mampu menghipnotis siapa pun yang memandangnya. Gadis ini atau biasa disebut ‘Mace’ Papua atau ‘Perempuan Tanah’ begitu mempesona. Dia mengenakan gaun berwarna merah tua menjuntai, yang berkibar lembut saat angin sepoi-sepoi menerpa.
Dia berjalan anggun, laksana seorang bidadari yang turun dari kayangan. Tanpa sadar, aku memperhatikannya dengan seksama dan berkata dalam hati “Siiooo.. sapa pu anak perempuaan nih?” Dia lalu duduk di bangku, beberapa meter dariku. Mengeluarkan buku dari tasnya dan mulai membaca. Aku yang terpikat memberanikan diri mendekatinya. Mencoba mengajaknya bercerita.
“Sore, sa permisi duduk disini ee.., senja bagus s’kali ee?” Sapaku lembut. Dia balik menatapku lembut, sambil tersenyum manis dan mengangguk. “Trapapa kaka, duduk saja!” jawabnya lembut meresponku. “Terimakasih,” balas saya. “Iyo senja bagus s’kali! Sa setiap sore datang duduk disini untuk lihat senja. Kalo cuaca bagus!” tambahnya.
Kami pun larut dalam percakapan yang mengalir begitu saja. Oh iya, mace tanah’ yang cantik ini namanya Lussy. Ia seorang guru pembantu yang mengajar di salah satu sekolah dasar di Kota Sorong. Dia pun berkisah tentang kecintaanya pada tanah Papua, pada anak-anak Papua dan tentang semangatnya untuk mendidik generasi muda Papua.
Dia juga bercerita dan memberikan pandangan tentang dinamika dan kondisi tanah Papua hari ini. Darah muda Serui peranakan Moi itu hobinya membaca buku. Terlebih buku yang mengulas budaya dan sejarah perkembangan masyarakat Papua. Juga mendengar musik tradisional Papua.
Lussy sering terlibat dalam beberapa kegiatan sosial. Ikut mengkampanyekan penyelamatan lingkungan dan manusia Papua yang digalakan pihak LSM bersama Gerakan Politik Papua. Begitulah penjelasannya di awal perkenalan dan percakapan kami.
Aku sangat terpesona oleh pengetahuan, semangat dan kecintaannya pada tanah Papua. Aku merasa bahwa sepertinya kita punya sedikit kesamaan. Kami lantas bercerita tentang mimpi dan harapan masing-masing, tentang perjalanan dan pengalaman hidup yang telah kami lalui. Tak terasa, waktu seolah beranjak begitu cepat saat kami saling berbagi cerita.
Malam pun tiba. Lampu-lampu di sekitaran Tembok Berlin mulai dinyalakan, menerangi suasana yang semakin romantis. Waktu di arlojiku menunjukan pukul 19:15 malam. Dengan spontan saya pun berkata “ih ade su jam tujuh nih”. Ia pun merespon dengan manja, “iyo kah…, tra terasa ee?”
“Lussy tadi kesini pake apa, motor kah atau?” tanya saya sekedar berpura-pura ingin tahu. “Tadi ade laki-laki yang antar. Tapi tra tau, nanti dia datang jemput atau tidak?” jawabnya membuatku tambah penasaran karena ingin mengantarnya pulang. “Tapi sa su WA adik dia untuk datang jemput!” tambahnya.
“Oh iyo..,dari tadi tong bicara nih, kaka belum sempat tanya Lussy tinggal dimana?” tanya saya penasaran. “Sa tinggal di Rufei Kampung Salak kaka!” jawabnya malu-malu sambil tersenyum simpul.
Dengan perasaan kecewa, kami harus mengakhiri percakapan romantis diantara suasana remang-remang bibir pantai Tembok Berlin. Kami pun berdiri lalu beranjak ke tempat dimana adiknya akan menjemput dengan motor. Sambil berjalan, kami masih terus berbincang.
“Besok kalo cuaca bagus, berarti Lussy kesini lagi ka?” tanya saya ingin tahu. “Iya.. Intinya kalo cuaca bagus, besok sa tetap kesini!” jawabnya sembari tersenyum manis. Tanpa merasa malu, saya memberanikan diri meminta kita saling bertukar nomor, agar percakapan singkat dan romantis tadi dapat dilanjutkan di WA.
Setelah sampai di tempat penjemputan yang telah ditentukan, sudah ada seorang pria muda yang menunggunya.“Viko, ko su lama disitu ka?” tanya Lussy pada adiknya yang akan menjemputnya. “Ah…,sa baru sampe saja nih!” jawab Viko. “Sa baru mo kas keluar HP untuk chat ko nih“ lanjut Viko. “Kalo begitu putar motor baru tong jalan sudah” ucap Lussy.
Ketika Viko menghidupkan dan memutar motor, saya mulai merasakan kesepian dan kehilangan. Seakan saya dan Lussy sudah lama saling mengenal. Dalam hati saya berkata, “ahh sial ee..,coba tadi tong ketemu dari tempo-tempo sana ka!”
Lussy pun bergerak menaiki motor sambil terus menatapku dengan senyumannya yang khas. “Kakak tong jalan ee.., nanti lanjut di chat,” ucapnya datar. Seperti ada ketidakrelaan hatinya meninggalkan saya sendiri. Laki-laki yang menjemput itu menurut Lussy adalah adiknya. Mungkin bisa benar, atau mungkin dia berbohong? Entahlah…..
Ketika motor yang ditumpanginya perlahan meninggalkan tempat itu, aku terus menatapnya seakan tak rela. Ia pun membalas dengan melemparkan senyuman manis dan sesekali melambaikan tangan padaku yang masih terus berdiri di bawah tiang lampu jalan.
Saya merasa bersyukur atas pertemuan tak terduga ini. Pertemuan dengan Lussy, seorang wanita cantik yang tidak hanya memikat dengan kecantikan dan pengetahuannya. Tapi juga kecerdasan dan semangatnya.
Aku tahu, pertemuan ini bukanlah kebetulan semata. Ini adaalah takdir dan anugerah dari Tuhan yang mempertemukan dua jiwa yang memiliki kecintaan yang sama pada tanah Papua.
Bersambung…..,
(*) Ebis Marshall adalah penulis cerita pendek (cerpen) ini melalui pelatihan menulis yang difasilitasi Yayasan/Perkumpulan Avaa (Maret 2025). Dia seorang aktivis Papua dan pegiat masyarakat sipil yang mulai meminati dunia menulis dan sastra.